Rabu, 02 Desember 2015

Masa Depan Ada Di Tangan Pemuda

2 Desember 2015
Hari ini aku mau ngomongin masalah pendidikan luar biasa,
secara saya yang akan terjun kedunia pendidikan yang agak penuh dengan "permainan ini" dengan duni pendidikan saat ini diiringi dengan teknologi yang semakin canggih, bukannya membuat mudah namun membikin sulit di operatornya, sedangkan teknologi hadir untuk mempermudah pekerjaan bukan malah menambah pekerjaan dengan berbagai aplikasi yang harus diverifikasi, ohhh itu belum seberapa dengan rentetan kurikulum yang "maju mundur cantik", jika memang belum siap untuk dipakai tolong lah pak/bu jangan diterjunkan dulu, paling tidak kita menyiapkan dulu apa-apa yang ada di lapangan, yang paling penting adalah SDM yang berpengaruh besar terhadap "PROSES" dalam kelas. saya pernah menjadi guru di sebuah sekolah inklusi di suatu wilayah di jawa timur, memang sistem,SDM dan prasarana tidak sama antara di kota dan desa tidak sama, bila di kota lebih bisa para guru menerima "kurikulum 2013" dengan cara pandang yang lebih luas karena dekat dengan orang2 yang paham dengan kurikulum, sedangkan di desa mereka masih meraba-raba apa itu "K13" mereka lebih dintuntut di administrasi yang harus diisi dengan lengkap.

Ya memang mereka sebelum melaksanakan K13 mereka diberi pelatihan DIKNAS masing-masing daerah, dalam pelaksanaan pelatihan tersebut mereka masih bingung dalam membuat RPP, dan Micro Teaching di dalam benak mereka seolah beratnya " makanan apa ini?", setelah beberapa hari mereka mendapat pelatihan saya menanyakan kepada beberapa orang guru "apa yang anda dapat dari pelatihan K13?"dan jawaban mereka pun variatif seperti dibawah ini :
1. hanya ingin mendapat uang saku
2. karena perintah dari kepala sekolah
3. karena ingin mendapat pengalaman
4. karena bebas dari tugas di sekolah mereka merasa senang
Mungkin itu yang saya dapat saya kutip dari jawaban audience saya, variatif sekali dan dari pelatihan tersebut mereka tidak mendapatkan apapun ini yang paling tragis, jangan sampai pelatihan kurikulu hanya dijadikan prosedur dari dinas pendidikan nasional. ini sangat tidak bermanfaat, harusnya bertahap pak.. semua butuh proses untuk hal-hal yang baru...
apa yang salah dengan sistem pendidikan kita, kurikulum yang semakin membuat "pusing" apa sih yang harus dilakukan, ya memang finlandia adalah negara yang paling bagus dalam pendidikan, jika kita mencontoh negara tersebut untuk mengadaptasi sistem pendidikannya pertanyaan saya "siapkah negara kita?" jangan main ambil aja dong pak, kita mau maju juga butuh proses, maka janganlah hanya guru PNS saja yang mendapat beasiswa pendidikan, usia mereka sudah (yang sudah tua) sudah tidak mendukung lagi otaknya (maaf kasar), masa depan ada di tangan pemuda pak...harusnya guru yang muda2 itu yang dibantu untuk ditambahkan ilmunya kalo perlu semua guru muda harus S2, nah,, ini kebalik yang tua dan mampu malah diberi beasiswa, yang muda yang masih menjadi tenaga honorer boro2 beasiswa ehhh,,, uang transport aja kalo dikasih ya syukur pak, Ingat pak masa depan ada di tangan kami, yang akan meneruskan perjuangan tenaga kependidikan di masa depan,
Masa Depan Ada Di Tangan Kita...

2 komentar: